Cara Mengurangi Downtime Produksi Akibat Keterlambatan Bahan Baku

downtime produksi

Optimalkan manajemen persediaan dengan sistem yang cerdas dan terencana

Downtime adalah kondisi dimana suatu sistem, mesin atau proses produksi berhenti beroperasi, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Dalam industri manufaktur, downtime terjadi ketika peralatan atau mesin tidak dapat menjalankan fungsi operasionalnya. Sehingga berdampak terhadap tertundanya proses produksi dan kerugian finansial. 

Salah satu penyebab krusial dari downtime produksi adalah keterlambatan pasokan bahan baku. Ketika bahan baku tidak tersedia tepat waktu produksi akan terhenti sepenuhnya. Ketidaksesuaian antara jumlah kebutuhan bahan baku dengan ketersediaan bahan baku aktual, akan menyebabkan hambatan produksi dan penurunan produktivitas perusahaan.

Beberapa perusahaan sering dihadapkan dilema terhadap pengelolaan stok bahan baku. Dimana kekurangan stok akan menghentikan produksi, sementara kelebihan stock akan meningkatkan biaya penyimpanan seperti biaya sewa gudang atau resiko kerusakan. Fluktuasi permintaan pasar sulit diprediksi dan ketidakpastian dalam jadwal pengiriman dari pemasok akan memperburuk situasi, sehingga perencanaan kebutuhan bahan baku menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

Penyebab Umum Terjadinya Downtime Produksi

Selain keterlambatan bahan baku, ada beberapa penyebab umum lainnya yang dapat memicu downtime dalam industri manufaktur :

1. Kegagalan Mesin / Equipment Failure

Mesin yang aus, tidak terawat atau melewati usia pakainya akan menjadi penyebab utama terhentinya produksi. Jika kerusakan tidak segera ditangani, downtime bisa berlangsung lebih lama karena menunggu proses perbaikan, penggantian sparepartm atau bahkan pembelian mesin baru. Hal ini tidak hanya mengehentikan produksi, tetapi juga menimbulkan biaya tidak terduga.

2. Kurangnya Preventive Maintenance

Banyak perusahaan masih terjebak pada pola corrective maintenance (memperbaiki saat rusak) dibanding preventive maintenance (merawat sebelum rusak). Tanpa jadwal perawatan rutin akan berisiko berusakan besar semakin tinggi.

3. Human Error

Kesalahan operator atau staf akibat kurangnya pelatihan, kelelahan, atau kurang disiplin dalam mengikuti SOP dapat menghentikan jalannya mesin maupun sistem. Human error termasuk penyebab downtime yang sering terjadi, namun sebenarnya bisa diminimalisasi dengan pelatihan berkelanjutan dan monitoring kinerja.

4. Lead Time yang Tidak Terkelola

Lead time adalah periode antara dimulainya proses atau pemesanan hingga selesainya pengiriman. Ketidakmampuan mengelola lead time dengan baik dapat mengakibatkan keterlambatan produksi maupun distribusi. Dampaknya, perusahaan bisa mengalami kehabisan stok bahan baku, tidak mampu memenuhi jadwal pengiriman, hingga kehilangan kepercayaan pelanggan.

5. Gangguan Listrik

Fluktuasi tegangan, pemadaman mendadak, atau kerusakan sistem kontrol otomatis dapat melumpuhkan jalannya produksi. Industri manufaktur yang sangat bergantung pada sistem terintegrasi membutuhkan infrastruktur kelistrikan yang andal, termasuk pemasangan UPS dan generator cadangan untuk menjamin kontinuitas operasi.

Solusi Menghindari Downtime Produksi

Strategi manajemen persediaan menjadi kunci untuk mengatasi downtime produksi, khususnya yang disebabkan oleh keterlambatan bahan baku. Salah satu solusi paling efektif adalah dengan implementasi sistem Enterprises Resource Planning (ERP). 

Peran ERP dalam mengurangi downtime adalah sebagai sistem manajemen bisnis yang komprehensif. Sistem ini tidak hanya mengalokasikan sumber daya secara efisien, namun juga menyederhanakan berbagai proses bisnis. Melalui ERP, perusahaan dapat : 

  1. Memantau performa mesin dan jadwal produksi secara real-time.
  2. Mengelola jadwal pemeliharaan secara otomatis untuk mencegah kerusakan mendadak.
  3. Menganalisis histori downtime untuk pengambilan keputusan yang lebih baik dan mengientifikasi akar masalah.
  4. Mengintegrasikan seluruh proses bisnis dari produksi, gudang, hingga pengadaan dalam satu platform.

Salah satu ERP yang menyediakan solusi terintegrasi dalam mengelola kebutuhan produksi dan persediaan bahan baku adalah Odoo. platform ini juga dilengkapi oleh modul Material Requirements Planning (MRP) dan fitur Reordering Rules. 

MRP odoo adalah sistem yang dirancang khusus untuk mengelola inventaris, merencanakan produksi, dan menjadwalkan pengiriman guna memenuhi pesanan pelanggan. Dengan MRP, perusahaan dapat : 

  1. Memastikan ketersediaan material dan mengoptimalkan tingkat inventaris.
  2. Mengkoordinasikan aktivitas produksi dengan ketersediaan material dan permintaan.
  3. Mengatasi kekacauan akibat keterlambatan produksi dan waktu tunggu yang meningkat
  4. Memberikan kontrol ketat akan material, jadwal, dan sistem internal dalam proses manufaktur

Sementara itu fitur Reordering Rules berfungsi untuk menjaga tingkat persediaan tetap berada di atas ambang batas minimum dan tidak melebihi batas maksimum yang ditentukan. Fitur ini sangat penting untuk memastikan bahan baku selalu tersedia saat dibutuhkan, sekaligus mencegah penumpukan stok. 

Downtime Bisa Dicegah, Bukan Ditunggu

Downtime produksi menjadi tantangan yang harus diatasi melalui strategi manajemen persediaan yang kuat, seperti salah satunya implementasi ERP Odoo dengan modul MRP dan Reordering Rules. Melalui pendekataan ini, perusahaan tidak hanya mengatasi keterlambatan bahan baku, tetapi  juga mengurangi risiko downtime. Hasilnya, proses produksi dapat berjalan lancar, meminimalkan biaya persediaan, dan meningkatkan daya saing pasar yang kompetitif.

Jika anda tertarik untuk melihat bagaimana software ERP Odoo dapat membantu mengurangi downtime di perusahaan anda, silahkan coba demo gratis atau melakukan diskusi lebih lanjut dengan learning partner odoo HASH untuk mendapatkan konsultasi lebih personal. Pilihlah solusi yang scalable, fleksibel, mudah digunakan, dan terjangkau untuk menunjang pertumbuhan bisnis anda.