Arsitektur Sistem ERP: Konsep, Jenis, dan Contohnya

Ditulis oleh:

Daftar Isi
Arsitektur Sistem ERP: Konsep, Jenis, dan Contohnya

Highlights

  • Keberhasilan implementasi ERP sangat dipengaruhi oleh arsitektur teknis sistem ERP yang mengatur pemisahan layer, alur komunikasi antar komponen, serta kemampuan sistem dalam menangani pertumbuhan data dan pengguna.
  • Arsitektur ERP saat ini berkembang dari sistem terpusat yang sederhana menuju pendekatan cloud dan hybrid, yang memberikan fleksibilitas lebih tinggi, ketersediaan sistem yang andal, serta kemudahan integrasi lintas aplikasi bisnis.
  • Analisis arsitektur ERP sejak awal membantu perusahaan menghindari risiko sistem lambat, biaya rework tinggi, kesulitan integrasi, dan kegagalan skalabilitas saat bisnis berkembang.

Transformasi digital mendorong perusahaan untuk membangun sistem yang terintegrasi, efisien, dan mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Salah satu fondasi utama dari transformasi ini adalah Enterprise Resource Planning (ERP). Namun banyak bisnis tidak menyadari bahwa keberhasilan implementasi ERP tidak hanya bergantung pada fitur atau modulnya, tetapi juga pada arsitektur sistem ERP yang menjadi tulang punggung jalannya operasional. Arsitektur yang tepat dapat meningkatkan skalabilitas, kecepatan akses, integrasi antar proses, hingga keamanan informasi perusahaan.

Di sisi lain, kesalahan dalam merancang arsitektur ERP dapat menimbulkan berbagai risiko. Mulai dari lambatnya sistem, mahalnya biaya pengembangan, sulitnya integrasi, hingga kegagalan implementasi secara keseluruhan. Tidak sedikit perusahaan yang akhirnya harus melakukan rework karena arsitektur awal tidak siap menampung pertumbuhan bisnis atau tidak sesuai dengan standarisasi proses di organisasi. Karena itu, pemahaman mendalam mengenai arsitektur ERP menjadi bagian penting dalam perencanaan jangka panjang TI perusahaan.

Saat ini terdapat berbagai pendekatan arsitektur ERP, mulai dari arsitektur 1-tier yang sederhana, 3-tier yang terstruktur, hingga arsitektur cloud modern yang menawarkan fleksibilitas tinggi. Setiap jenis memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing tergantung pada kebutuhan, skala, dan strategi bisnis. Artikel ini membahas secara lengkap komponen arsitektur ERP, jenis-jenisnya, faktor pemilihan, hingga contoh penerapannya di berbagai industri.

Dengan pemahaman komprehensif, perusahaan dapat memilih desain arsitektur yang lebih tepat, minim risiko, dan mendukung ekspansi bisnis dalam jangka panjang. Hash Rekayasa Teknologi menghadirkan ulasan ini sebagai panduan bagi perusahaan yang sedang merencanakan implementasi ERP berbasis Odoo maupun sistem lainnya.

Apa itu Arsitektur Sistem ERP?

Arsitektur sistem ERP adalah struktur teknis yang mendefinisikan bagaimana komponen ERP bekerja, berkomunikasi, dan dikelola untuk menjalankan proses bisnis secara terintegrasi. Arsitektur ini mencakup bagaimana aplikasi dipisahkan dalam lapisan seperti presentasi, logika bisnis, dan database serta bagaimana sistem tersebut saling terhubung melalui integrasi internal maupun eksternal. Dengan arsitektur yang jelas, perusahaan dapat memastikan sistem berjalan stabil, aman, dan mudah dikembangkan.

Pada dasarnya, arsitektur sistem ERP mengatur blueprint teknis dari seluruh sistem, termasuk server, jaringan, database, modul aplikasi, API, hingga cloud services. Arsitektur ini sangat penting karena menentukan bagaimana sistem menangani volume transaksi besar, jumlah pengguna yang banyak, atau kebutuhan komputasi yang kompleks. Misalnya, perusahaan berskala besar biasanya membutuhkan arsitektur 3-tier atau cloud-based agar sistem tetap responsif meskipun digunakan ribuan karyawan secara paralel.

Selain itu, arsitektur ERP juga berhubungan erat dengan integrasi. Sistem ERP tidak berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan sistem lain seperti CRM, WMS, HRIS, e-Commerce, POS, atau aplikasi pihak ketiga lainnya. Tanpa arsitektur integrasi yang baik, perusahaan akan menghadapi duplikasi data, kesalahan pembacaan transaksi, dan kesulitan audit.

Dengan kata lain, arsitektur sistem ERP merupakan fondasi dari seluruh operasional digital perusahaan. Keputusan arsitektur akan berdampak terhadap biaya, kecepatan implementasi, fleksibilitas, keamanan, dan kemampuan sistem dalam jangka panjang.

Komponen Utama dalam Arsitektur Sistem ERP

Komponen Utama dalam Arsitektur Sistem ERP

Sebelum memilih jenis arsitektur, penting untuk memahami komponen utama yang menjadi pondasi sistem ERP. Setiap komponen memiliki fungsi berbeda namun bekerja secara saling terhubung untuk menjalankan proses bisnis secara efisien.

1. Lapisan Presentasi (Presentation Layer)

Lapisan presentasi merupakan bagian terdepan dari ERP yang berinteraksi langsung dengan pengguna. Biasanya berbentuk antarmuka web, mobile, atau desktop. Di sinilah pengguna melihat data, menginput transaksi, menjalankan laporan, dan mengakses semua fitur ERP. Lapisan ini dirancang agar mudah digunakan sehingga dapat mengurangi hambatan adopsi oleh karyawan.

Dalam arsitektur modern, layer presentasi biasanya berbasis web untuk memudahkan akses lintas perangkat. Keunggulan dari pendekatan ini adalah kemudahan pemeliharaan karena update UI dapat dilakukan secara terpusat tanpa perlu instalasi ulang di perangkat pengguna.

Kemampuan responsif dan user experience (UX) yang baik juga menjadi bagian penting. UI yang buruk sering menjadi penyebab rendahnya tingkat penggunaan ERP, meskipun sistem sangat kuat secara teknis. Karena itu, lapisan presentasi memegang peran strategis dalam memastikan ERP diterima dan digunakan dengan optimal oleh pengguna.

Secara umum, ERP berbasis cloud seperti Odoo modern sudah mengadopsi desain UI minimalis, intuitif, dan mudah dipelajari sehingga mempercepat adaptasi pengguna baru.

2. Lapisan Aplikasi / Logika Bisnis (Application Layer)

Lapisan aplikasi adalah inti dari sistem ERP yang berisi logika bisnis, workflow, dan aturan proses perusahaan. Semua transaksi mulai dari perhitungan stok, penjadwalan produksi, rekonsiliasi keuangan, hingga approval manajerial dikelola oleh lapisan ini. Layer ini menentukan bagaimana data diproses sebelum masuk ke database.

Pada arsitektur multi-tier, layer aplikasi biasanya ditempatkan di application server. Pemisahan ini memberikan fleksibilitas untuk melakukan scaling horizontal ketika jumlah pengguna meningkat. Dengan arsitektur terpisah, sistem dapat menangani ribuan transaksi tanpa menurunkan performa.

Application layer juga menjadi tempat di mana keamanan operasional diterapkan. Hak akses, validasi data, dan kontrol workflow dilakukan pada lapisan ini. Dengan manajemen yang tepat, risiko manipulasi data atau kesalahan proses dapat diminimalkan.

Dalam konteks implementasi modern, banyak ERP mulai mengadopsi arsitektur microservices agar modul-modul dapat dikembangkan lebih fleksibel dan terpisah. Namun, sistem seperti Odoo masih menggunakan pendekatan modular monolithic yang teropitmalkan untuk integrasi end-to-end.

3. Lapisan Data / Database (Data Layer)

Data layer berfungsi sebagai tempat penyimpanan seluruh informasi transaksi dan master data. Sistem ERP umumnya menggunakan relational database seperti PostgreSQL, MySQL, atau SQL Server. Kualitas, konsistensi, dan kecepatan database sangat menentukan reliabilitas ERP.

Lapisan data bukan hanya penyimpanan, tetapi juga mencakup sistem keamanan seperti enkripsi, backup, indexing, dan pengaturan transaksi (ACID compliance) untuk menjaga integritas data. Risiko seperti korupsi data dapat berdampak fatal terhadap operasional perusahaan, sehingga lapisan ini harus dirancang dengan tingkat keamanan tinggi.

Biasanya, database ditempatkan secara terpisah dari lapisan aplikasi untuk meningkatkan performa dan keamanan. Arsitektur ini juga memudahkan perusahaan melakukan tuning, replikasi, atau migrasi tanpa mengganggu modul aplikasi.

Seiring meningkatnya volume data perusahaan, lapisan database dapat di-scale-up maupun scale-out agar mampu mengelola transaksi besar tanpa bottleneck. ERP modern bahkan mendukung data partitioning untuk performa yang lebih baik.

4. Integrasi & Middleware (API, ESB, Message Broker)

Sistem ERP modern tidak pernah berdiri sendiri. Integrasi adalah komponen krusial agar ERP dapat terhubung dengan aplikasi lain seperti marketplace, payment gateway, e-commerce, HRIS, atau sistem manufaktur. Di sinilah peran middleware dan API menjadi sangat penting.

ERP modern menggunakan REST API atau GraphQL API untuk memastikan aliran data dua arah berjalan mulus. Untuk perusahaan besar, integrasi lebih kompleks dan membutuhkan Enterprise Service Bus (ESB) serta message broker seperti RabbitMQ atau Kafka untuk menangani transaksi dalam volume besar.

Integrasi yang baik membantu mengurangi duplikasi data, meningkatkan akurasi laporan, dan mempercepat proses lintas departemen. Selain itu, middleware juga melindungi aplikasi inti dari gangguan jika salah satu sistem eksternal mengalami gangguan.

Odoo sendiri menyediakan API yang kuat dan mudah digunakan sehingga cocok untuk perusahaan yang membutuhkan integrasi cepat dan terstandardisasi.

Jenis Arsitektur Sistem ERP Berdasarkan Tier

Dalam dunia ERP, pembagian arsitektur berdasarkan “tier” membantu perusahaan memahami kompleksitas sistem dan menentukan pilihan yang sesuai dengan ukuran serta kebutuhan operasional mereka.

1. Arsitektur ERP 1-Tier

Arsitektur 1-tier adalah model paling sederhana di mana seluruh komponen ERP seperti UI, aplikasi, dan database berjalan dalam satu lingkungan server atau satu mesin. Biasanya digunakan oleh usaha kecil yang memiliki jumlah pengguna minimal dan proses bisnis tidak terlalu kompleks.

Keunggulan utama dari arsitektur ini adalah biaya rendah dan kemudahan implementasi. Tidak membutuhkan manajemen infrastruktur yang rumit dan cocok untuk bisnis yang baru memulai digitalisasi. Namun, kekurangannya adalah sistem sulit diskalakan ketika jumlah pengguna bertambah.

Selain itu, arsitektur ini kurang cocok untuk perusahaan yang ingin mengintegrasikan banyak modul atau membutuhkan tingkat keamanan tinggi. Sistem juga rentan overload jika volume transaksi meningkat secara drastis.

Meski sederhana, arsitektur ini masih digunakan di sektor UMKM atau software ERP lama (legacy) yang belum didesain untuk skala besar.

2. Arsitektur ERP 2-Tier

Arsitektur 2-tier memisahkan antara aplikasi (client/server) dan database. Model ini memberikan performa lebih stabil dibanding 1-tier dan mendukung jumlah pengguna lebih banyak. Pada perusahaan dengan banyak cabang, arsitektur ini memungkinkan server pusat mengelola master data, sementara cabang memiliki aplikasi operasionalnya sendiri.

Salah satu keunggulan besar dari 2-tier adalah fleksibilitas. Cabang dapat menyesuaikan proses bisnis lokal tanpa mengganggu sistem pusat. Hal ini umum di perusahaan multinasional yang butuh standardisasi di pusat sekaligus fleksibilitas lokal.

Kelemahannya terletak pada integrasi yang lebih kompleks serta kebutuhan maintenance yang lebih besar. Dibutuhkan tim TI internal yang kompeten untuk memastikan sinkronisasi data berjalan lancar.

Arsitektur ini menjadi pilihan ideal bagi perusahaan menengah yang sedang berkembang dan mulai memperluas cabang operasional.

3. Arsitektur ERP 3-Tier

Arsitektur 3-tier adalah model paling umum di ERP modern, memisahkan:

  1. Presentation layer
  2. Application layer
  3. Database layer

Model ini mendukung skalabilitas tinggi, keamanan lebih baik, dan performa optimal. Setiap lapisan dapat ditingkatkan kapasitasnya tanpa mengganggu lapisan lainnya. Karena itu, arsitektur ini cocok untuk perusahaan menengah hingga besar.

Dengan 3-tier, perusahaan dapat mengatur beban server aplikasi dan database secara lebih efisien. Misalnya, ketika penggunaan meningkat, hanya application server yang perlu di-scale-up.

Arsitektur ini juga lebih aman karena database ditempatkan di layer terisolasi. Akses langsung ke database dapat dibatasi sehingga meminimalkan risiko serangan.

Perusahaan seperti manufaktur, logistik skala besar, dan perusahaan distribusi yang memiliki transaksi tinggi umumnya menggunakan arsitektur 3-tier.

4. Arsitektur Cloud-Based dan Hybrid ERP

Cloud ERP menggunakan infrastruktur milik provider cloud seperti AWS, GCP, atau server Odoo.sh. Model ini menawarkan fleksibilitas tinggi karena sumber daya dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan tanpa investasi perangkat keras.

Keunggulan cloud ERP adalah biaya awal rendah, update otomatis, dan kemudahan akses dari mana saja. Banyak perusahaan memilih cloud karena model SaaS memungkinkan mereka fokus pada operasional tanpa mengelola server.

Sementara itu, hybrid ERP merupakan kombinasi on-premise dan cloud. Arsitektur ini populer pada perusahaan yang memiliki regulasi ketat seperti perbankan, kesehatan, atau perusahaan multinasional.

Hybrid memberikan fleksibilitas tinggi, namun membutuhkan integrasi middleware antara cloud dan on-premise agar data tetap sinkron.

Pendekatan Arsitektur: Terpusat vs Terdistribusi

Pendekatan terpusat (centralized) menggunakan satu instance ERP utama yang menampung semua modul dan transaksi. Pendekatan ini memberikan kontrol data lebih ketat, standardisasi proses, dan konsistensi informasi. Banyak perusahaan memilih model ini ketika ingin menghilangkan silo data.

Sebaliknya, arsitektur terdistribusi memungkinkan setiap unit bisnis atau cabang memiliki modul ERP sendiri yang terhubung ke pusat. Ini cocok untuk perusahaan multinasional yang harus memenuhi regulasi lokal atau memiliki perbedaan proses signifikan.

Pendekatan terdistribusi juga memberikan fleksibilitas, namun memerlukan integrasi yang lebih kompleks. Risiko duplikasi data dan perbedaan standar proses juga lebih tinggi sehingga membutuhkan kontrol governance ketat.

Pemilihan pendekatan ini biasanya berdasarkan struktur organisasi, kebutuhan compliance, kecepatan akses, serta strategi ekspansi.

Baca Juga : 13 Modul Odoo ERP yang Sudah Disediakan untuk Menunjang Bisnis

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memilih Arsitektur Sistem ERP

Pemilihan arsitektur ERP bukan hanya keputusan teknis, tetapi juga keputusan strategis yang memengaruhi biaya, performa, dan kemampuan perusahaan dalam jangka panjang.

1. Skala, Struktur Organisasi, dan Lokasi Cabang

Perusahaan kecil mungkin cukup dengan arsitektur 1-tier atau cloud ERP, namun perusahaan besar yang memiliki banyak cabang atau pabrik membutuhkan arsitektur multi-tier atau hybrid.

Struktur organisasi juga menentukan bagaimana data harus disinkronkan. Perusahaan dengan model multi-brand atau multi-entity biasanya membutuhkan arsitektur yang lebih fleksibel.

Selain itu, lokasi cabang memengaruhi latency. Cabang internasional lebih cocok menggunakan arsitektur cloud atau distributed ERP untuk menghindari akses lambat ke server pusat.

Keputusan arsitektur harus mempertimbangkan rencana ekspansi bisnis dalam 3–5 tahun ke depan.

2. Kebutuhan Kinerja, Skalabilitas, dan Ketersediaan (Availability)

Jika perusahaan memiliki volume transaksi harian tinggi, arsitektur 2-tier atau 3-tier lebih cocok karena dapat di-scale. Sistem juga harus mendukung high availability untuk menghindari downtime yang merugikan.

Perusahaan manufaktur dengan banyak transaksi produksi membutuhkan arsitektur yang mampu menangani ribuan transaksi I/O secara real-time. Begitu pula perusahaan e-commerce yang membutuhkan sistem tahan lonjakan trafik saat kampanye besar.

Ketersediaan 24/7 juga menjadi standar di banyak industri. Karena itu, sistem harus mampu mendukung failover, load balancing, dan replikasi database.

Skalabilitas adalah faktor penting untuk menghindari biaya migrasi arsitektur di masa depan.

3. Regulasi, Kepatuhan, dan Lokasi Penyimpanan Data (Data Residency)

Dalam beberapa industri, lokasi data harus sesuai regulasi negara. Misalnya, perusahaan keuangan atau kesehatan sering membutuhkan data disimpan on-premise atau dalam wilayah tertentu.

Aspek kepatuhan seperti ISO 27001, PDPA, atau GDPR juga memengaruhi desain arsitektur ERP. Sistem harus mampu melindungi data sensitif dan mendukung audit secara berkala.

Jika perusahaan beroperasi di banyak negara, arsitektur distributed ERP dengan masing-masing data center lokal mungkin menjadi pilihan.

Hal ini mencegah pelanggaran hukum internasional dan meningkatkan kecepatan akses pengguna.

4. Biaya Implementasi & Total Cost of Ownership (TCO)

Arsitektur on-premise biasanya membutuhkan investasi besar pada awal implementasi (CAPEX), sedangkan cloud ERP berfokus pada biaya berlangganan (OPEX). Perusahaan harus menghitung biaya jangka panjang, bukan hanya biaya awal.

Selain lisensi, perusahaan harus mempertimbangkan biaya infrastruktur, integrasi, tenaga TI internal, hingga maintenance. Arsitektur lebih kompleks biasanya memiliki biaya operasional lebih tinggi.

Namun, solusi cloud sering memberikan pembaruan otomatis yang menghemat biaya upgrade. Sementara arsitektur hybrid bisa mengombinasikan keunggulan kedua model.

Perhitungan TCO membantu perusahaan memilih solusi paling ekonomis dalam jangka panjang.

5. Kesiapan Infrastruktur & Kapabilitas Tim TI Internal

Arsitektur yang baik tidak hanya dilihat dari kecanggihan, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk mengelolanya. Jika tim TI internal belum berpengalaman, arsitektur cloud atau hybrid lebih aman dibanding on-premise penuh.

Selain itu, infrastruktur jaringan, bandwidth, storage, dan keamanan harus dipertimbangkan agar sistem bekerja sesuai ekspektasi. Tanpa kesiapan ini, ERP dapat mengalami kendala performa.

Tim TI yang kuat dapat menangani arsitektur kompleks, sementara perusahaan dengan sumber daya terbatas sebaiknya memilih model yang lebih sederhana dan terkelola.

Kesesuaian kemampuan internal dan kompleksitas arsitektur harus menjadi pertimbangan utama.

Contoh Penerapan Arsitektur Sistem ERP di Dunia Nyata

Untuk membantu memahami bagaimana arsitektur ERP bekerja dalam operasional nyata, berikut beberapa contoh implementasi yang umum ditemukan di berbagai industri.

1. Perusahaan Manufaktur Multi-Pabrik

Manufaktur biasanya menggunakan arsitektur 3-tier atau hybrid agar mampu menangani proses kompleks seperti MRP, BOM, routing, dan integrasi shop floor. Sistem pusat mengelola master data, sementara modul produksi di pabrik masing-masing terhubung secara real-time.

Arsitektur ini memungkinkan sinkronisasi data cepat untuk menghitung kebutuhan bahan baku, jadwal produksi, dan ketersediaan stok antar-pabrik. Selain itu, performa sistem tetap stabil meskipun volume transaksi sangat tinggi.

Perusahaan manufaktur juga sering mengintegrasikan ERP dengan WMS (Warehouse Management System) dan MES (Manufacturing Execution System), sehingga membutuhkan middleware kuat.

Pendekatan ini memberikan transparansi penuh terhadap proses produksi dari hulu ke hilir.

2. Perusahaan Distribusi & Retail dengan Banyak Cabang

Perusahaan retail membutuhkan arsitektur ERP yang mampu menangani transaksi cepat dan integrasi dengan POS dan sistem back-office. Banyak perusahaan memilih arsitektur 2-tier: POS lokal di cabang dan ERP pusat untuk inventory serta finance.

Arsitektur distributed ERP membantu cabang tetap beroperasi meski internet terputus sementara. Data kemudian disinkronkan otomatis ketika koneksi kembali.

Perusahaan distribusi besar juga membutuhkan arsitektur multi-warehouse. ERP harus mampu mengelola stok lintas lokasi dengan visibility real-time.

Dengan arsitektur yang tepat, perusahaan dapat melakukan replenishment otomatis dan mengurangi risiko out-of-stock.

3. Perusahaan Jasa atau Konsultan dengan Tim Remote

Perusahaan jasa cenderung memilih arsitektur cloud ERP karena fleksibilitas akses dari mana saja. Sistem berbasis cloud membantu karyawan menginput timesheet, laporan proyek, dan billing tanpa harus berada di kantor.

Integrasi dengan modul project management dan CRM menjadi kunci pada industri ini. Cloud ERP juga mendukung kolaborasi tim lintas lokasi secara efektif.

Arsitektur cloud juga memudahkan perusahaan menskalakan pengguna sesuai kebutuhan proyek. Tidak ada investasi server besar yang harus dilakukan.

Bagi perusahaan konsultan atau startup teknologi, cloud ERP memberikan efisiensi maksimal dengan biaya lebih rendah.

Tantangan Umum dalam Perancangan dan Implementasi Arsitektur ERP

Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi ERP adalah migrasi data dari sistem lama. Data yang tidak konsisten atau tidak lengkap dapat menyebabkan kegagalan integrasi setelah go-live. Karena itu, tahap data cleansing dan validasi harus dilakukan secara ketat.

Tantangan berikutnya adalah resistensi perubahan dari pengguna. Meskipun sistem baru lebih efisien, karyawan sering sulit beradaptasi dengan proses digital yang lebih terstruktur. Pendekatan change management sangat diperlukan untuk meminimalkan penolakan internal.

Arsitektur ERP yang kompleks juga membutuhkan integrasi yang matang. Banyak perusahaan gagal karena integrasi tidak direncanakan dengan baik, sehingga data menjadi tidak sinkron.

Selain itu, arsitektur yang salah dapat menyebabkan sistem tidak scalable, sehingga perusahaan harus melakukan redesign ketika bisnis bertumbuh.

Merancang Arsitektur ERP yang Scalable untuk Bisnis Anda

Arsitektur sistem ERP bukan sekadar keputusan teknis, tetapi investasi jangka panjang yang akan menentukan keberhasilan transformasi digital perusahaan. Sistem yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan efisiensi, mempercepat pengambilan keputusan, dan mengurangi biaya operasional. Sebaliknya, arsitektur yang salah dapat menyebabkan kerumitan, biaya tinggi, dan potensi kegagalan implementasi.

Untuk memastikan arsitektur ERP sesuai kebutuhan bisnis, perusahaan perlu mempertimbangkan faktor seperti skala organisasi, kebutuhan integrasi, keamanan, kepatuhan regulasi, hingga kemampuan tim internal. Pendekatan konsultatif dari partner implementasi akan sangat membantu perusahaan merancang solusi yang tepat dan berkelanjutan.

PT Hash Rekayasa Teknologi sebagai Odoo Partner siap membantu Anda merancang arsitektur ERP yang scalable, aman, dan sesuai dengan kebutuhan industri. Kami mendampingi proses mulai dari analisis kebutuhan, desain arsitektur, implementasi, hingga support jangka panjang.

Ingin membangun arsitektur ERP yang kuat dan siap untuk ekspansi bisnis? Hubungi Hash untuk konsultasi ERP yang profesional dan terpercaya.

Baca Juga : 9 Faktor Keberhasilan Implementasi ERP di Perusahaan

Bagikan artikel
Picture of Septian Bagus Widyacahya

Septian Bagus Widyacahya

Bagi sedikit informasi biografi untuk mengisi profil Anda. Ini akan ditampilkan kepada publik.

Artikel Terkait