Apa Itu Reorder Point? Cara Hitung dan Cara Mencegah Kehabisan Stok

Ditulis oleh:

Daftar Isi
Apa Itu Reorder Point? Cara Hitung dan Cara Mencegah Kehabisan Stok

Highlights

Pernah tiba-tiba kehabisan stok barang padahal pesanan pelanggan sedang ramai? Kondisi ini bukan hanya merugikan dari sisi penjualan, tetapi juga bisa merusak kepercayaan pelanggan yang sudah susah payah dibangun.

Banyak pemilik UKM masih mengandalkan perkiraan atau “feeling” untuk menentukan kapan harus memesan stok ulang. Akibatnya, mereka sering terjebak di dua situasi ekstrem: kehabisan barang di saat kritis, atau menyimpan terlalu banyak stok sehingga modal mengendap sia-sia di gudang.

Di sinilah reorder point adalah konsep yang wajib dipahami setiap pelaku usaha. Dengan menerapkan reorder point secara tepat, Anda bisa menentukan kapan waktu paling ideal untuk memesan ulang stok, sehingga operasional bisnis berjalan lancar tanpa pemborosan.

Apa Itu Reorder Point?

Sebelum masuk ke teknis perhitungan, penting untuk memahami dulu apa yang dimaksud dengan reorder point dan bagaimana konsep ini berhubungan dengan elemen manajemen stok lainnya. Pemahaman yang kuat di bagian ini akan membuat Anda lebih mudah mengaplikasikannya secara nyata.

1. Definisi Reorder Point dalam Manajemen Inventory

Reorder point adalah titik atau batas jumlah stok minimum yang menjadi sinyal bagi bisnis untuk segera melakukan pemesanan ulang kepada supplier. Ketika jumlah stok di gudang menyentuh angka ini, artinya sudah waktunya Anda membuat purchase order baru sebelum stok benar-benar habis.

Konsep ini lahir dari kebutuhan nyata dunia bisnis: jeda waktu antara pemesanan dan kedatangan barang tidak bisa dihindari. Tanpa titik pemesanan ulang yang jelas, bisnis hanya bisa berharap barang datang tepat waktu, padahal keterlambatan supplier adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Dengan menetapkan reorder point secara terstruktur, bisnis tidak lagi menebak-nebak kapan harus memesan. Proses pengadaan menjadi lebih terencana, lebih efisien, dan risiko kehabisan stok bisa ditekan secara signifikan.

2. Perbedaan Reorder Point, Safety Stock, dan Lead Time

Tiga istilah ini sering muncul bersama dalam manajemen inventory, namun masing-masing memiliki peran yang berbeda. Reorder point adalah angka pemicu pemesanan, sementara safety stock adalah stok cadangan yang sengaja disimpan untuk mengantisipasi kondisi tak terduga.

Lead time, di sisi lain, adalah jangka waktu yang dibutuhkan sejak pesanan dibuat hingga barang sampai di gudang Anda. Ketiga elemen ini saling berkaitan erat karena nilai reorder point dihitung menggunakan data lead time dan safety stock.

Jika lead time supplier Anda adalah 5 hari dan rata-rata penjualan harian 20 unit, maka Anda harus sudah memesan sebelum stok turun ke angka 100 unit ditambah safety stock. Inilah mengapa memahami ketiga konsep ini secara bersamaan jauh lebih penting daripada memahaminya secara terpisah.

Baca Juga : Chaos Operasional Saat Buka Cabang? Ini Akar Masalahnya

Rumus dan Cara Menghitung Reorder Point

Rumus dan Cara Menghitung Reorder Point

Banyak pelaku usaha merasa cara menghitung reorder point itu rumit, padahal rumusnya cukup sederhana jika Anda sudah memiliki data yang tepat. Bagian ini akan memandu Anda dari rumus dasar hingga contoh kasus nyata.

1. Rumus Dasar Reorder Point

Rumus reorder point yang paling umum digunakan adalah sebagai berikut:

Reorder Point = (Average Daily Demand x Lead Time) + Safety Stock

Average Daily Demand adalah rata-rata jumlah unit yang terjual atau digunakan setiap harinya. Lead time adalah jumlah hari yang dibutuhkan supplier untuk mengirimkan barang sejak pesanan diterima.

Safety stock berfungsi sebagai bantalan pengaman jika ada lonjakan permintaan mendadak atau keterlambatan pengiriman. Semakin tidak stabil permintaan atau semakin sering supplier terlambat, semakin besar safety stock yang perlu Anda siapkan.

2. Contoh Perhitungan Reorder Point (Studi Kasus)

Bayangkan sebuah toko perlengkapan kantor di Surabaya yang menjual rata-rata 30 rim kertas A4 per hari. Supplier mereka membutuhkan waktu 4 hari untuk mengantarkan pesanan, dan mereka memutuskan menyimpan safety stock sebesar 50 rim sebagai cadangan.

Maka perhitungannya adalah: Reorder Point = (30 x 4) + 50 = 120 + 50 = 170 rim.

Artinya, ketika stok kertas A4 di gudang mencapai angka 170 rim, toko tersebut harus segera membuat purchase order kepada supplier. Dengan begitu, barang baru akan tiba tepat saat stok mulai menipis dan safety stock masih tetap terjaga.

3. Reorder Point untuk Produk Musiman vs Reguler

Produk reguler memiliki pola permintaan yang relatif stabil dari bulan ke bulan, sehingga reorder point adalah angka yang cukup konsisten dan tidak perlu sering direvisi. Namun untuk produk musiman seperti baju lebaran, payung di musim hujan, atau parcel hari raya, perhitungannya harus disesuaikan dengan pola permintaan tiap periode.

Untuk produk musiman, disarankan menggunakan data historis penjualan dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebagai dasar Average Daily Demand. Selain itu, safety stock perlu diperbesar karena variabilitas permintaan jauh lebih tinggi dibanding produk reguler.

Bisnis yang cermat biasanya membuat dua versi reorder point untuk produk musiman: satu untuk masa normal dan satu khusus untuk puncak musim. Pendekatan ini membantu menghindari kehabisan stok di momen penjualan tertinggi sekaligus mencegah penumpukan barang setelah musim berakhir.

Faktor yang Mempengaruhi Reorder Point

Reorder point bukan angka yang ditetapkan sekali lalu berlaku selamanya. Ada beberapa faktor dinamis yang harus Anda pantau secara berkala agar angka ini tetap relevan dengan kondisi bisnis yang terus berubah.

1. Lead Time Supplier (Waktu Pengiriman)

Lead time adalah salah satu variabel paling kritis dalam reorder point lead time. Jika supplier Anda biasanya mengirim dalam 3 hari namun tiba-tiba berubah menjadi 7 hari karena masalah logistik, maka reorder point Anda yang lama sudah tidak valid lagi.

Kondisi ini sering terjadi saat hari raya, cuaca ekstrem, atau gangguan rantai pasok global. Karena itu, penting untuk memperbarui data lead time secara rutin dan tidak hanya berpatokan pada performa supplier di masa lalu.

2. Average Daily Demand (Rata-rata Permintaan Harian)

Permintaan pelanggan bisa berubah karena banyak faktor: tren pasar, promosi kompetitor, perubahan musim, hingga kampanye diskon yang Anda jalankan sendiri. Jika Anda menggunakan data permintaan dari 6 bulan lalu padahal tren penjualan sudah berubah drastis, reorder point yang Anda hitung bisa jauh dari realita.

Idealnya, gunakan data 30 hingga 90 hari terakhir sebagai acuan Average Daily Demand untuk produk dengan pola permintaan yang cukup dinamis. Semakin segar data yang digunakan, semakin akurat titik pemesanan ulang yang Anda tentukan.

3. Safety Stock yang Ditentukan

Besaran safety stock sangat dipengaruhi oleh seberapa besar toleransi risiko bisnis Anda. Bisnis yang beroperasi di industri dengan margin tipis dan kompetisi ketat biasanya membutuhkan safety stock yang lebih besar karena kehilangan satu transaksi pun terasa sangat berdampak.

Sebaliknya, bisnis dengan produk yang mudah diganti atau pelanggan yang lebih toleran bisa menetapkan safety stock lebih rendah untuk mengoptimalkan arus kas. Keputusan ini perlu diseimbangkan antara biaya penyimpanan dan risiko kehabisan stok.

4. Variabilitas Permintaan dan Pasokan

Semakin tidak menentu permintaan pelanggan dan semakin sering supplier mengalami keterlambatan, semakin kompleks perhitungan reorder point yang dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, rumus dasar saja tidak cukup karena tidak memperhitungkan fluktuasi.

Beberapa bisnis menggunakan metode yang lebih canggih seperti rumus safety stock berbasis deviasi standar untuk mengakomodasi variabilitas ini. Metode tersebut memang membutuhkan data historis yang lebih lengkap, namun hasilnya jauh lebih akurat dan andal untuk bisnis dengan pola permintaan yang tidak stabil.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penentuan Reorder Point

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penentuan Reorder Point

Memahami rumusnya saja belum cukup jika Anda masih melakukan kesalahan mendasar dalam proses penetapannya. Berikut adalah tiga kesalahan paling umum yang sering terjadi, bahkan pada bisnis yang sudah cukup berpengalaman sekalipun.

1. Menggunakan Data Historis yang Tidak Relevan

Kesalahan pertama dan paling sering terjadi adalah menggunakan data penjualan lama yang sudah tidak mencerminkan kondisi pasar saat ini. Misalnya, menghitung reorder point berdasarkan data penjualan setahun lalu padahal bisnis Anda sudah membuka cabang baru atau masuk ke channel penjualan online.

Data yang tidak relevan akan menghasilkan reorder point yang tidak akurat, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Akibatnya, keputusan pengadaan menjadi tidak efisien dan masalah stok terus berulang meski Anda merasa sudah menerapkan sistem yang benar.

2. Tidak Mempertimbangkan Variasi Lead Time Supplier

Banyak pelaku usaha menghitung reorder point menggunakan angka lead time tunggal, misalnya “supplier selalu kirim dalam 3 hari.” Padahal kenyataannya, lead time bisa bervariasi antara 2 hingga 6 hari tergantung kondisi di lapangan.

Jika Anda tidak memperhitungkan variasi ini, safety stock yang Anda miliki bisa habis sebelum barang datang di saat supplier mengalami keterlambatan. Solusinya adalah menggunakan rata-rata lead time sekaligus memperhitungkan skenario terburuk dalam menentukan safety stock.

3. Reorder Point Sama untuk Semua SKU

Menetapkan satu angka reorder point yang berlaku untuk semua produk adalah kesalahan yang terkesan sepele namun berdampak besar. Produk A yang terjual 100 unit per hari jelas membutuhkan reorder point yang sangat berbeda dibanding produk B yang hanya terjual 5 unit per minggu.

Setiap SKU memiliki karakteristik permintaan, lead time, dan tingkat risiko yang berbeda-beda. Karena itu, reorder point dalam manajemen gudang yang baik harus dihitung secara individual untuk setiap produk atau setidaknya per kategori produk berdasarkan perputarannya.

Cara ERP Mengotomatisasi Reorder Point

Menghitung reorder point secara manual menggunakan spreadsheet memang bisa dilakukan, namun untuk bisnis dengan ratusan SKU, pendekatan ini sangat rentan terhadap kesalahan dan memakan waktu. Sistem ERP modern hadir untuk mengotomatisasi seluruh proses ini secara akurat dan real-time.

1. Min/Max Reordering Rules di Odoo Inventory

Odoo Inventory memiliki fitur Min/Max Reordering Rules yang memungkinkan Anda menetapkan batas minimum dan maksimum stok untuk setiap produk secara individual. Ketika stok suatu produk menyentuh batas minimum yang telah ditentukan, sistem akan otomatis menandai produk tersebut sebagai butuh pengisian ulang.

Fitur ini sangat berguna untuk bisnis dengan banyak SKU karena Anda tidak perlu lagi memantau satu per satu secara manual. Cukup atur parameternya sekali, dan sistem yang akan bekerja untuk Anda setiap saat.

2. Auto Purchase Order saat Stok Menyentuh ROP

Selangkah lebih canggih dari sekadar notifikasi, Odoo juga bisa dikonfigurasi untuk membuat purchase order secara otomatis ketika stok menyentuh titik reorder point yang sudah ditetapkan. Sistem akan langsung mengisi detail pesanan berdasarkan supplier yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk jumlah yang harus dipesan.

Dengan begitu, tim Anda tidak perlu lagi mengecek stok setiap hari atau khawatir lupa melakukan pemesanan di waktu yang tepat. Proses pengadaan menjadi jauh lebih efisien dan risiko human error bisa ditekan secara signifikan.

3. Dashboard Monitoring Stok Kritis Real-Time

Odoo menyediakan dashboard yang menampilkan kondisi stok secara real-time, termasuk produk-produk yang sudah berada di bawah atau mendekati reorder point. Informasi ini bisa diakses kapan saja dan dari mana saja, sehingga manajer gudang selalu memiliki gambaran yang jelas tanpa harus membuka laporan manual.

Dashboard ini juga bisa menampilkan tren pergerakan stok sehingga Anda bisa mengantisipasi lonjakan permintaan sebelum terjadi. Kombinasi antara otomatisasi dan visibilitas real-time inilah yang membuat sistem ERP jauh lebih unggul dibanding pengelolaan stok secara konvensional.

Mulai Terapkan Reorder Point di Bisnis Anda Hari Ini

Reorder point adalah fondasi dari manajemen stok yang sehat. Tanpa titik pemesanan ulang yang jelas, bisnis Anda akan terus berputar di masalah yang sama: kehabisan stok di saat ramai atau kelebihan stok yang menguras modal.

Langkah pertama yang bisa Anda ambil sekarang adalah mengumpulkan data penjualan harian dan data lead time supplier Anda selama 30 hingga 90 hari terakhir. Dari sana, hitung reorder point untuk produk-produk dengan perputaran tertinggi terlebih dahulu, lalu secara bertahap terapkan ke seluruh SKU.

Jika bisnis Anda sudah berkembang dan pengelolaan manual mulai terasa kewalahan, pertimbangkan untuk menggunakan sistem ERP yang bisa mengotomatisasi seluruh proses ini. Dengan sistem yang tepat, tim Anda bisa fokus pada hal yang lebih strategis sementara manajemen stok berjalan sendiri secara akurat dan efisien.

Reorder point adalah investasi kecil dalam perencanaan yang memberikan dampak besar pada kelancaran operasional bisnis Anda. Mulailah dari data yang sudah Anda miliki, hitung dengan rumus yang sederhana, dan evaluasi secara berkala agar angkanya selalu relevan dengan kondisi bisnis yang terus berkembang.

Baca Juga : Odoo Functional: Peran, Tugas, dan Skill yang Dibutuhkan

Bagikan artikel
Picture of Septian Bagus Widyacahya

Septian Bagus Widyacahya

Digital marketer dengan fokus utama pada SEO & SEM. Memiliki pengalaman sejak 2018 dalam mengembangkan strategi digital marketing, melakukan audit SEO, content creation, dan paid advertising.

Artikel Terkait